Tazkirah Ramadhan


Salam Ramadhan,

Tawaran Teristimewa Menjelang Tiba

Tawaran Teristimewa Menjelang Tiba

Alhamdulillah, malam tadi sempat mengikuti kuliah Maghrib yang disampaikan oleh Ustaz Asmawi bin Abu Bakar, Imam 1 Masjid At-Taqwa Pekan, Pahang.

Imam Asmawi baru beberapa bulan bertugas di masjid tersebut. Teringat pertama kali mendengar khutbah Jumaat beliau, terus meninggalkan ‘first impression‘ yang terus berbekas di hati.Lantang, jelas, bersemangat, faham, masih muda dan menyegarkan kariah.

Baik, kuliah Maghrib tersebut diadakan di Surau Tan Sri Yahaya Ahmad, Taman Perdana. Topik kuliah berkisar persiapan menyambut Ramadhan dan  pengisiannya.

MUQADIMAH

Beliau memulakan dengan menghuraikan dua ayat daripada Surah At-Taubah, ayat 111 & 112.

[111]
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman akan jiwa mereka dan harta benda mereka dengan (balasan) bahawa mereka akan beroleh Syurga, (disebabkan) mereka berjuang pada jalan Allah maka (di antara) mereka ada yang membunuh dan terbunuh. (Balasan Syurga yang demikian ialah) sebagai janji yang benar yang ditetapkan oleh Allah di dalam (Kitab-kitab) Taurat dan Injil serta Al-Quran; dan siapakah lagi yang lebih menyempurnakan janjinya daripada Allah? Oleh itu, bergembiralah dengan jualan yang kamu jalankan jual-belinya itu, dan (ketahuilah bahawa) jual-beli (yang seperti itu) ialah kemenangan yang besar.
[112]
(Mereka itu ialah): orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji Allah, yang mengembara (untuk menuntut ilmu dan mengembangkan Islam), yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat kebaikan dan yang melarang daripada kejahatan, serta yang menjaga batas-batas hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman (yang bersifat demikian).

(dipetik daripada Quran in Malay)

PUASA RAHSIA HAMBA & TUHAN

Diterangkan hakikat puasa, yang menjadi rahsia antara hamba & Tuhan, kerana ibadah puasa sukar untuk dinilai samada betul-betul dilaksanakan ataupun tidak.

Hadis Rasulullah saw;

Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:”Semua amalan anak Adam digandakan kebaikannya sepuluh kali ganda serupa dengannya hingga tujuh ratus kali ganda, Allah Azza Wajalla berkata:” Melainkan puasa, kerana ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya, mereka meninggalkan syahwat dan makanannya kerana-Ku.” Bagi orang yang berpuasa akan mendapat dua kegembiraan; kegembiraan semasa berbuka dan kegembiraan semasa menemui Tuhannya, dan bau busuk (dari mulut orang yang berpuasa) kerana berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau Musk.”

Riwayat Bukhari & Muslim (dipetik daripada e-Hadith JAKIM)

Diterangkan juga dalil wajib puasa, iaitu Surah Al-Baqarah ayat 183, iaitu bertujuan untuk mencapai taqwa kepadaNya.

[183]
Wahai orang-orang yang beriman! Kamu diwajibkan berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang dahulu daripada kamu, supaya kamu bertaqwa.

Al Quran, Puasa & Taqwa

Al Quran, Puasa & Taqwa

MENGETUK PINTU SYURGA

Seterusnya dibacakan hadis Nabi SAW: Biasakan mengetuk pintu surga dengan lapar.”

Pencarian internet menemukan hadis di atas (di blog Ratna Januarita), disamping penerangan yang panjang lebar berkenaan Faedah Lapar/Puasa.

Faedah Lapar

Apa yang akan kita peroleh bila kita berlatih melaparkan perut kita, mengendalikan nafsu konsumtif kita? Al-Ghazali menyebutkan sepuluh faedah:

Pertama, membersihkan hati dan menajamkan mata batin.

Kata Al-Syibli: Setiap hari aku melaparkan perutku, pintu hikmah dan ‘ibrah (pelajaran) terbuka bagiku. Kata Yazid Al-Bisthami: Lapar itu mega. Bila perut lapar, dari hati akan tercurah hujan hikmah. Bila lapar memancarkan kearifan, kenyang akan melahirkan kedunguan. Nabi SAW bersabda: “Cahaya kearifan adalah lapar, menjauh dari Allah adalah kenyang, mendekati Allah ialah mencintai fakir dan miskin dan akrab dengan mereka. Jangan kenyangkan perutmu, nanti padam cahaya hikmah dalam hatimu.”

Kedua, melembutkan hati dan membersihkannya sehingga mampu merasakan kelezatan berzikir.

Kadang-kadang kita berzikir dengan kehadiran hati, tetapi kita tidak menikmatinya dan hati kita tidak tersentuh sama sekali. Pada waktu yang lain, hati kita sangat lembut dan kita merasakan kelezatan berzikir dan kenikmatan bermunajat. Menurut para sufi, sebab utama dari hilangnya kelezatan zikir adalah perut yang kenyang. Kata Abu Sulaiman: Apabila orang lapar dan haus, hatinya akan terang dan lembut. Bila orang kenyang, hatinya akan buta dan kasar.

Ketiga, meluluhkan dan merendahkan hati, menghilangkan kesombongan dan keliaran jiwa.

Ketika kita lapar, kita merasakan kelemahan tubuh kita di hadapan kekuasaan Allah. Betapa ringkihnya kita, kalau Tuhan memisahkan kita dari makanan dan minuman hanya untuk beberapa waktu saja. Menurut Imam Khomeini, kekhusyukan dalam ibadah hanya dapat tercapai dengan dua syarat: kita merasakan dzillat al’ubudiyyah(kehinaan hamba) dan ‘izzat al-rububiyah (keagungan Tuhan). Karena itu, ketika Nabi SAW ditawari semua kenikmatan dunia, beliau menolaknya dan berkata, “Tidak, aku ingin lapar sehari dan kenyang sehari; pada waktu lapar aku bisa bersabar dan merendahkan diriku, pada waktu kenyang aku bisa bersyukur.”

Keempat, mengingatkan kita pada ujian dan azab Allah.

Ketika orang kenyang, ia tidak ingat pedihnya kelaparan dan kehausan. Seorang yang arif akan mengenang derita -lapar dan haus- pada hari akhirat atau pada waktu sakaratul maut, ketika ia merasakan lapar dan haus di dunia ini. Orang yang selalu kenyang dan sehat tidak akan merasakan pedihnya hari Kiamat; karena itu, berkurang dan bisa hilang keyakinannya pada hari akhirat. Begitu pula, orang yang tidak pernah lapar akan lupa pada sebagian masyarakat yang diuji Tuhan dengan kelaparan. Ia akan kehilangan imannya; karena ia tidur kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya. Ketika Nabi Yusuf as menjadi Menteri Logistik, dia membiasakan puasa setiap hari. Orang bertanya kepadanya: “Mengapa Anda lapar padahal perbendaharaan bumi ditangan anda?”. Yusuf menjawab, “Aku takut kenyang dan melupakan orang yang lapar”

Kelima, mematikan keinginan untuk berbuat maksiat dan menguasai nafsu amarah (diri yang memerintahkan keburukan).

Dalam keadaan kenyang, kita punya kekuatan untuk melakukan kemaksiatan. Makan dan minum adalah bensin yang menggerakkan mobil hawa nafsu kita. Kata Al-Ghazali, kenyang dapat mengerakkan dua syahwat (keinginan) yang berbahaya: “syahwat farji” dan “syahwat bicara”. Kata Dzun Nun: Setiap kali aku kenyang aku bermaksiat atau berniat untuk melakukan maksiat. Kata ‘A’isyah: Bid’ah yang pertama terjadi setelah wafat Nabi SAW ialah makan kenyang.

Keenam, mengurangi tidur dan membiasakan jaga.

Orang yan banyak makan, pasti banyak juga tidurnya. Perut yang penuh sangat sukar dibawa bangun malam. Dahulu, kalau para guru sufi menyajikan makanan untuk para muridnya, mereka berkata, “Janganlah makan banyak, nanti tidur kamu banyak dan kau juga rugi banyak.” Jangan berikan ilmu kepada perut-perut yang kenyang, karena mereka akan mengubahnya menjadi mimpi. Jangan berikan sajadah kepada mereka, karena mereka akan mengubahnya menjadi kasur. Jangan berikan pekerjaan penting kepada mereka, karena mereka akan melalaikannya.

Ketujuh, memudahkan menjalankan ibadah.

Untuk makan dan mempersiapkan makan kita memerlukan waktu. Waktu adalah anugerah Tuhan yang sangat berharga. Jika perhatian kita terpusat pada makanan, kita akan menghabiskan waktu untuk mencari tempat makan, menunggu makanan terhidang, dan menikmati makanannya. Perhatikan ketika kita berpuasa. Pada waktu pagi, kita bisa ke kantor dengan segera tanpa harus makan pagi lebih dahulu. Pada waktu istirahat tengah hari, kita bisa melanjutkan kerja atau membaca Al-Qur’an, karen akita tidak keluar untuk makan siang. Abu Sulaiman Al-Darani berkata: Dalam keadaan kenyang, masuk ke dalam diri kita enam penyakit: hilangnya kelezatan munajat, berkurangnya kemampuan menyimpan hikmah, memudarnya empati pada penderitaan rakyat, beratnya tubuh untuk melakukan ibadah, bertambahnya gelora syahwat, dan ketika kaum Mukmin bolak-balik ke masjid, mereka bolak-balik ke toilet.

Kedelapan, menyehatkan tubuh dan menolak penyakit.

Pernyataan Al-Ghazali ini, yang didasarkan pada sabda Nabi SAW, dibuktikan dalam kedokteran modern. Saya ingin melengkapi komentar Al-Ghazali dengan hasil penelitian mutakhir tentang manfaat puasa bagi kesehatan. Manfaat pertama puasa adalahmembersihkan tubuh dari racun. Puasa adalah teknik detoksifikasi yang paling murah dan paling efektif. Detoksifikasi ialah prose mengeluarkan atau menetralkan racun dalam tubuh (toksin) melalui usus, hati, ginjal, paru-paru, dan kulit. Bukan hanya racun yang terbentuk karena kelebihan makanan, tetapi juga racun yang diserap dari lingkungan. Seorang dokter yang menganjurkan puasa mengetes urin, feses, dan keringatnya pada waktu puasa. Ia menemukan “jejak-jejak” DDT yang diserap dari lingkungan. Manfaat kedua puasa ialah menjalankan proses penyembuhan alami. Ketika puasa energi untuk mencerna makanan dialihkan ke metabolisme dan sistem imun. Pada saat yang sama, dalam tubuh kita terjadi sintesis protein yang sangat efisien dan memungkinkan tumbuhnya sel-sel dan organ-organ yang lebih sehat.

Karena produksi protein yang lebih efisien, tingkat metabolisme yang lebih lambat, dan sistem imun yang lebih baik, orang yang berpuasa memperoleh manfaat yang ketiga: awet muda dan panjang usia. HGH atau the Human Growth Hormone (hormon untuk pertumbuhan manusia) dikeluarkan lebih sering dalam keadaan berpuasa. Dalam sebuah eksperimen, cacing tanah diisolasi dan ditempatkan dalam siklus puasa dan tidak puasa –semacam satu hari puasa satu hari buka. Cacing itu terbukti bertahan hidup sampai 19 generasi dengan karakteristik tubuh yang tetap muda.“The life-span extension of these worms was the equivalent of keeping a man alive for 600 to 700 years,” kata sang peneliti.

Kita kembali kepada Al-Ghazali.

Kesembilan, kebiasaan melaparkan diri berfaedah untuk mengurangi mu’nah atau dengan istilah mutakhir, menyembuhkan penyakit konsumerisme.

Orang yang terbiasa makan sedikit akan puas dengan kehidupan yang sederhana. Dari kebersahajaan dalam makanan, ia akan melanjutkannya ke dalam kebersahajaan dalam pakaian, rumah, kendaraan, dan hajat-hajat hidup lainnya. Sudah terbukti secara ilmiah, tetapi tetap saja tidak dipercayai orang, bahwa orang yang hidup sederhana hidup jauh lebih bahagia dari orang yang hidup mewah. Al-Ghazali menulis hampir 900 tahun yang lalu seperti para ahli psikologi positif pada abad ini:

“Secara singkat, penyebab kehancuran manusia ialah kerakusannya akan kesenangan dunia. Kerakusan dunia disebabkan oleh “syahwat farji” dan “syahwat perut”. Dengan mengurangi makan kita menutup pintu neraka dan membuka pintu surga, sebagaimana disabdakan Nabi SAW: “Biasakan mengetuk pintu surga dengan lapar.” Jika orang sudah merasa cukup dengan makan sekadarnya, ia juga kan merasa cukup dengan keinginan-keinginan yang sekadarnya juga. Ia akan merdeka dan mandiri. Ia akan hidup tenteram. Ia akan mempunyai waktu lebih banyak untuk beribadah dan berdagang untuk hari akhirat. Ia akan termasuk “orang yang perdagangan dan jual beli tidak melalaikannya dari berzikir kepada Allah” (QS Al-Nur: 37).

Kesepuluh, karena kebiasaan mengurangi makan, kita mempunyai peluang untuk memberikan kelebihan harta buatmembantu kaum lemah –fakir miskin dan anak-anak yatim.

Sambil mengutip tafsir tentang amanah yang dibebankan pada manusia, Al-Ghazali menyebutkan kekayaan sebagai salah satu di antara amanah Tuhan yang harus kita pertanggungjawabkan. Manusia telah menggunakan amanah itu untuk memperkaya diri, memuaskan hawa nafsu, dan melupakan hari akhirat. “Mereka meluaskan rumah mereka dan menyempitkan kuburan mereka, menggemukkan keluarganya dan menguruskan agamanya, serta melelahkan dirinya pagi dan sore untuk mengemis kekayaan dari pintu para penguasa,” masih kata Al-Ghazali.

Seperti keledai dalam cerita Rumi, kita sering mengeluh karena rasa lapar. Kepada kita, Jalaluddin Rumi menggoreskan bait-bait puisinya:

Sekiranya tidak ada lapar, selain kegagalan pencernaan
Ratusan musibah lainnya akan muncul di permukaan

Sungguh musibah lapar lebih baik dari semua musibah
Lapar melembutkan, meringankan, dan memudahkan taat

Musibah lapar lebih jernih dari semua musibah
Di dalamnya ada ratusan faedah dan manfaat

Lapar itu raja segala obat, dengarkan
Simpan lapar dalam hatimu, jangan kau hinakan

Karena lapar, menjadi manis semua yang tak enak
Kalau tak lapar semua yang manis terasa apak

Seseorang makan roti yang bulukan
Orang bertanya: Mengapa yanag seperti ini kau makan?

Ia menjawab: ketika lapar bertambah karena puasa
Aku pikir roti kasar lebih manis dari halwa

Sebenarnya tidak semua orang dalam keadaan lapar bisa bertahan
Karena di dunia makanan datang berlimpahan

Lapar hanya anugerah Tuhan bagi orang istimewa
Dengan lapar mereka menjadi singa yang berwibawa

Mana mungkin lapar diberikan kepada setiap gelandangan
Karena di hadapan matanya teronggok banyak makanan.”

Demikian cuplikannya. Semoga dapat memperkaya bahan renungan kita semua … Semoga Allah anugerahkan kemudahan kepada kita untuk segera meraih hikmah terdalamnya …

(Setelah membaca dan merenungkan penggalan isi buku penuh inspirasi ini, saya menjadi sangat malu pada diri sendiri …)

Bakal bersambung, moga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s